Apa kabar..?

Kapan nih terakhir kali kamu berkunjung ke Bali? Di setiap kunjungan, pasti tak jarang kamu menemukan sesuatu yang menarik perhatian mata. Salah satunya mungkin adalah Penjor, yang lazim ditemukan terpasang di pinggir jalan atau di bagian depan sebuah bangunan.

Mengenal Penjor dan Asal-Usulnya

Penjor merupakan tiang bambu yang digunakan sebagai ornamen utama pada saat perayaan Galungan dan Kuningan. Tinggi penjor sekitar 7-10 meter, dengan puncak tiang melengkung ke bawah. Ciri khas penjor yaitu dihiasi dengan janur, kain warna putih/kuning, dan juga sesajian hasil bumi serta kue-kuean. Di balik keindahannya, penjor memiliki makna yang begitu mendalam lho, khususnya bagi masyarakat Bali.

Penjor Adalah Simbol Kesejahtweaan dan Kemakmuran

Di Bali, penjor dianggap sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran. Umat Hindu di Bali percaya bahwa penjor adalah simbol gunung yang dianggap suci, sehingga peletakannya nggak boleh sembarangan. penjor akan dipasang pada hari penampahan galungan. Waktu pasangnya yaitu setelah jam 12 siang.

Hal ini bermakna bahwa ketika hari raya penampahan galungan, manusia sedang berperang melawan pikiran buruk, sifat negatif, dan ego mereka sendiri. Nah, setelah berhasil menang dalam peperangan tersebut, penjor kemudian dipasang sebagai simbol kemenangan. Maka nggak heran saat Hari Raya Galungan, siapa pun yang sedang pergi ke Bali akan dengan mudah menemukan penjor terpasang di mana-mana. Sungguh sebuah pemandangan yang memukau mata!

Namun, penjor sebetulnya nggak cuma dipasang ketika merayakan Galungan dan Kuningan saja, lho. Karena bentuknya yang sangat indah, penjor sering dipakai sebagai dekorasi pada acara pernikahan, perayaan seperti Odalan, hingga acara keagamaan lainnya. Turis yang berkunjung pasti akan meluangkan waktu untuk menikmati keindahan simbol kebanggaan masyarakat Bali tersebut.

Makna Tersirat pada Unsur-Unsur Penjor

Dengan hanya sekilas melihat panjor, kita akan langsung tahu bahwa unsur-unsur yang ada di dalamnya sarat akan makna. Yap, betul sekali. Masing-masing dari unsur yang disematkan pada penjor melambangkan sesuatu yang suci. Dimulai dari tiang bambu, buah kelapa, kain kuning dan janur, kain putih, pala bungkah dan pala gantung, tebu, padi, sanggah, serta upakara. Semuanya menjadi simbol yang melambangkan vibrasi para dewa dalam agama Hindu.

Oleh sebab itu, unsur-unsur di atas wajib ada dalam pembuatan penjor untuk upacara di Bali, sebab masing-masing melambangkan simbol suci yang mengimplementasikan ajaran kitab suci Weda. Namun, ketentuan yang sama nggak berlaku pada penjor dekorasi ya. Penjor yang dipakai selain untuk acara upacara keagamaan cukup tampil menarik dan indah saja.

Nah, beberapa masyarakat Bali lainnya juga percaya bahwa Penjor adalah representasi dari Naga Anantaboga, yaitu simbol bumi dan kemakmuran. Anantaboga juga diartikan sebagai simbol kesuburan berupa anugerah pangan yang tak akan habis. Hal ini dipertegas dengan ditaruhnya makanan serta ornamen burung di sepanjang bagian bambu.

Menurut buku Adiparwa (buku pertama dari kisah Mahabharata), disebutkan bahwa burung adalah binatang yang membawa hasil pertanian dari tempat para dewa ke bumi. Wah, menarik sekali ya!

Selain itu, seluruh hasil bumi yang disematkan pada penjor merupakan simbol rasa bakti serta ucapan terima kasih, atas segala kemakmuran yang telah diberikan oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa kepada umat manusia.

Pelajaran yang Bisa Diambil dari Penjor

Bali punya keindahan magis yang menarik kita untuk selalu datang kembali. Keindahan Bali nggak hanya memanjakan mata, tetapi juga mengisi pikiran dan hati kita dengan sebuah pelajaran baru. Seperti halnya dengan penjor yang mengajarkan banyak orang mengenai arti hidup.

Penjor adalah simbol dari rasa bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan, rasa bahagia setelah berhasil menang melawan keburukan dalam diri sendiri, dan rasa rendah diri karena bagaimana pun manusia akan selalu bergantung pada alam.